Terkadang aku Rindu akan ejekanmu
Terkadang aku Rindu akan celaanmu
Terkadang aku Rindu akan marahmu
Terkadang aku Rindu akan manjamu
Terkadang aku Rindu akan cubitanmu
Terkadang aku Rindu akan senyummu
Terkadang aku Rindu akan pelukmu
Terkadang aku Rindu akan genggamanmu
Terkadang aku Rindu akan sosokmu, utuh...
PS : “Bolehkah untuk sekarang, aku mengganti semua kata “terkadang” itu dengan kata “selalu”...? kenyataannya, untuk saat ini hal itu selalu terjadi ALL-DAY-LONG !!”
Palupi Kerropi (lisda palupi utami)
manusia tidak ada yang sempurna :) tidak se-Sempurna Tuhan telah menciptakannya....
Jumat, 15 Juli 2011
IZIN?
Kalau kamu minta izin sama aku untuk ‘pergi’, jelas aku ga’ akan ngasih izin. Kalau kamu tanya apa aku rela ditinggalin sama kamu? Jelaslah jawabannya, aku ga’ akan rela.
Tapi aku ga’ pernah berani nunjukin itu semua ke kamu. Aku ga’ pernah berani bilang tentang perasaan aku yang sebenarnya. Jadi aku terpaksa bohong di depan kamu. Aku bilang, aku bakalan kuat, bakalan tetep senyum, bakalan tegar dan ga’ nangis kalau kamu pergi.
Tapi itu semua bohong!! Pasti kamu juga tau kan kalau aku lagi bohong?? Kamu kan mirip cenayang :p Jadi kamu pasti tau.
Kamu selalu bilang kalo aku ga’ akan pernah bisa bohongin kamu, karena kamu bisa tau hal yang sebenarnya cuma dari sorot mata aku. Sebegitu jelaskah??
Jadi, kamu pasti tau kan kalau semua itu ga’ bener. Kenyataannya aku ga’ akan pernah siap ditinggalin sama kamu. Aku terlalu takut. Kamu ngerti kan gimana rasanya??
Aku sayang kamu. Terlalu sayang sama kamu.
Jangan tinggalin aku yaa ^^
PS. Buat Tuhan : “Aku tau Engkau sayang sama dia. Aku juga. Aku yakin, aku lebih butuh dia dibanding Engkau, Tuhan. Jadi, jangan ambil dia, Tuhan...”
Tapi aku ga’ pernah berani nunjukin itu semua ke kamu. Aku ga’ pernah berani bilang tentang perasaan aku yang sebenarnya. Jadi aku terpaksa bohong di depan kamu. Aku bilang, aku bakalan kuat, bakalan tetep senyum, bakalan tegar dan ga’ nangis kalau kamu pergi.
Tapi itu semua bohong!! Pasti kamu juga tau kan kalau aku lagi bohong?? Kamu kan mirip cenayang :p Jadi kamu pasti tau.
Kamu selalu bilang kalo aku ga’ akan pernah bisa bohongin kamu, karena kamu bisa tau hal yang sebenarnya cuma dari sorot mata aku. Sebegitu jelaskah??
Jadi, kamu pasti tau kan kalau semua itu ga’ bener. Kenyataannya aku ga’ akan pernah siap ditinggalin sama kamu. Aku terlalu takut. Kamu ngerti kan gimana rasanya??
Aku sayang kamu. Terlalu sayang sama kamu.
Jangan tinggalin aku yaa ^^
PS. Buat Tuhan : “Aku tau Engkau sayang sama dia. Aku juga. Aku yakin, aku lebih butuh dia dibanding Engkau, Tuhan. Jadi, jangan ambil dia, Tuhan...”
Bandung, 27 Juni 2011
Kita saat itu tengah berbicara, berdua. Kamu begitu banyak memberikan konsep tentang hal-hal yang berkaitan dengan kita. Masihkah kamu mengingatnya? Kamu berbicara tentang konsep Cinta, Kasih, dan Sayang. Aku begitu kagum dengan semua kata yang kamu ucapkan. Dengan tegas kamu menjelaskan padaku tentang konsep ketiga hal tersebut beserta dengan perbedaannya. Kamu tahu apa yang kupikirkan saat itu? Kamu begitu mengagumkan ^^
Aku bilang, ketiga konsep tersebut sangat berkaitan erat. Tapi kamu bilang, ketiganya berbeda. Mereka memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Ah entahlah! Aku tidak bisa menginterpretasikan semuanya dengan jelas. Yang aku tahu hanyalah perasaanku sendiri yang mengatakan bahwa aku menyayangimu. Itu saja.
Sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang memenuhi pikiranku saat itu. Tapi aku sendiri tidak mengerti kenapa yang bisa kulakukan hanyalah diam, diam, dan diam. Mengangguk, mengangguk, dan mengangguk. Menggeleng, menggeleng, dan menggeleng. Aku ingin bertanya padamu saat itu. Aku ingin bertanya semua tentang kita, mendengarkan jawabnya dari bibirmu dan menemukan kesungguhannya lewat sorot mata teduhmu. Aku inginkan hal itu.
Aku menyayangimu. Aku tidak tahu apakah saat ini kamu sedang mengetest kesungguhan dan kesabaranku. Aku tahu. Aku benar-benar mengerti kalau kamu adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan. Semua hal yang kamu ucapkan pun merupakan hal yang menakjubkan. Tak heran jika banyak orang yang menyukaimu. Hal pertama yang membuatku menyukaimu pun adalah kemahiranmu mengungkapkan sesuatu dengan rangkaian kata-kata yang kamu susun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ungkapan yang utuh.
Aku tahu. Aku benar-benar mengerti dengan semua yang kamu ungkapkan saat kita berdiskusi kemarin. Aku sadar betul dengan posisimu yang selalu dikelilingi oleh banyak perempuan. Aku paham bahwa hal yang kamu lakukan itu hanyalah semata-mata untuk membantu kesulitan yang mereka hadapi. Entah untuk membantu mengenai masalah perkuliahan, maupun membantu untuk memberikan support dikala mereka membutuhkannya. Tapi, betapapun aku mengerti dengan semua hal itu, tetap saja kecemburuan itu selalu ada. Setidaknya saat itu, sebelum kamu menjelaskan padaku mengenai ketiga konsep tadi, Cinta, Kasih dan Sayang.
Aku cemburu. Aku hanya takut jika kamu pergi meninggalkanku dan lebih memilih untuk bersama dengan mereka. Aku hanya merasa tidak rela jika kamu membagi perasaanmu untuk mereka. Hal itulah yang aku rasakan. Tapi seperti yang aku katakan tadi, hal itu aku rasakan setidaknya sebelum kamu menjelaskan padaku tentang konsep Cemburu buta, Cinta buta dan konsep Kasih Sayang itu sendiri. Sekarang aku mengerti. Setidaknya aku belajar untuk mengerti dan memahaminya. Aku belajar untuk memahamimu dan memahami perasaanku sendiri. Aku harus bisa merasa yakin padamu dan pada diriku sendiri.
Maafkan jika aku sudah membuatmu kecewa atas sikapku selama ini. Aku belajar untuk memperbaiki semuanya. Bukan hanya untukmu, tapi lebih dari itu aku melakukannya untuk diriku sendiri. Rangkumannya : Aku menyayangimu, dan aku belajar untuk mengasihimu ^^
Aku bilang, ketiga konsep tersebut sangat berkaitan erat. Tapi kamu bilang, ketiganya berbeda. Mereka memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Ah entahlah! Aku tidak bisa menginterpretasikan semuanya dengan jelas. Yang aku tahu hanyalah perasaanku sendiri yang mengatakan bahwa aku menyayangimu. Itu saja.
Sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang memenuhi pikiranku saat itu. Tapi aku sendiri tidak mengerti kenapa yang bisa kulakukan hanyalah diam, diam, dan diam. Mengangguk, mengangguk, dan mengangguk. Menggeleng, menggeleng, dan menggeleng. Aku ingin bertanya padamu saat itu. Aku ingin bertanya semua tentang kita, mendengarkan jawabnya dari bibirmu dan menemukan kesungguhannya lewat sorot mata teduhmu. Aku inginkan hal itu.
Aku menyayangimu. Aku tidak tahu apakah saat ini kamu sedang mengetest kesungguhan dan kesabaranku. Aku tahu. Aku benar-benar mengerti kalau kamu adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan. Semua hal yang kamu ucapkan pun merupakan hal yang menakjubkan. Tak heran jika banyak orang yang menyukaimu. Hal pertama yang membuatku menyukaimu pun adalah kemahiranmu mengungkapkan sesuatu dengan rangkaian kata-kata yang kamu susun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ungkapan yang utuh.
Aku tahu. Aku benar-benar mengerti dengan semua yang kamu ungkapkan saat kita berdiskusi kemarin. Aku sadar betul dengan posisimu yang selalu dikelilingi oleh banyak perempuan. Aku paham bahwa hal yang kamu lakukan itu hanyalah semata-mata untuk membantu kesulitan yang mereka hadapi. Entah untuk membantu mengenai masalah perkuliahan, maupun membantu untuk memberikan support dikala mereka membutuhkannya. Tapi, betapapun aku mengerti dengan semua hal itu, tetap saja kecemburuan itu selalu ada. Setidaknya saat itu, sebelum kamu menjelaskan padaku mengenai ketiga konsep tadi, Cinta, Kasih dan Sayang.
Aku cemburu. Aku hanya takut jika kamu pergi meninggalkanku dan lebih memilih untuk bersama dengan mereka. Aku hanya merasa tidak rela jika kamu membagi perasaanmu untuk mereka. Hal itulah yang aku rasakan. Tapi seperti yang aku katakan tadi, hal itu aku rasakan setidaknya sebelum kamu menjelaskan padaku tentang konsep Cemburu buta, Cinta buta dan konsep Kasih Sayang itu sendiri. Sekarang aku mengerti. Setidaknya aku belajar untuk mengerti dan memahaminya. Aku belajar untuk memahamimu dan memahami perasaanku sendiri. Aku harus bisa merasa yakin padamu dan pada diriku sendiri.
Maafkan jika aku sudah membuatmu kecewa atas sikapku selama ini. Aku belajar untuk memperbaiki semuanya. Bukan hanya untukmu, tapi lebih dari itu aku melakukannya untuk diriku sendiri. Rangkumannya : Aku menyayangimu, dan aku belajar untuk mengasihimu ^^
TUHAN MEMANG MAHA MEMBOLAK-BALIKAN HATI
Tuhan memang Maha membolak-balikan hati setiap manusia. Betapa tidak?!
Dirinya yang dulu tak pernah sekalipun menggetarkan dawai di hati ini, kini secara tiba-tiba menjelma menjadi seseorang yang kehadirannya selalu kutunggu. Menunggu untuk apa, aku pun tak mengetahuinya dengan pasti. Aku tak mengerti!
Aku tahu dengan pasti bahwa cintanya bukanlah untukku. Hatiku tidak mungkin bisa bertautan dengan hatinya yang jelas-jelas sudah bukan untukku, dan memang dari awal pun bukanlah untukku. Aneh memang. Lantas mengapa sosoknya kemudian bisa menjadi begitu berarti?? Mengapa pula aku harus selalu menunggu kehadirannya?? Meskipun terkadang aku harus bisa menerima kenyataan pahit bahwa dia tidak datang, bahkan aku harus lebih siap lagi jika aku mengetahui bahwa kehadirannya bukan untuk menyapa relung jiwaku.
Lalu kenapa?? Kenapa hati ini bisa begitu tulus mencintainya? Kenapa jiwa ini bisa bisa begitu merindukan kehadirannya? Kenapa diri ini bisa begitu terpaku pada sosoknya, dan terkungkung oleh pesonanya? Aku pun tidak tau jawabnya. Hanya Tuhan lah yang mengetahui segalanya. Hanya Tuhan yang mengetahui tentang segala apa yang ada di dalam hatiku dan hatinya.
Hanya satu yang pasti aku ketahui. Aku akan selalu menemukan ketentraman lewat setiap tatapannya yang membiusku dengan mata sendunya itu. Selain itu, aku juga akan selalu merasakan kelembutan yang bisa aku temukan lewat tutur katanya yang senantiasa ia ucapkan dengan begitu syahdu. Aku juga bisa menemukan kegembiraan di setiap gelak tawa yang selalu kita bagi bersama di setiap waktu yang kita punya. Aku bisa merasakan segalanya ketika dia berada di sisiku. Terlebih dari semua itu, aku akan selalu merasakan kenyamanan setiap menghabiskan waktu bersamanya.
Tak tahulah! Aku tak berani menyebut semua ini sebagai cinta sejati. Aku hanya terlalu takut untuk terjatuh (lagi). Tapi dengan mengenal sosoknya, sungguh aku telah belajar banyak hal. Darinya, aku belajar tentang arti ‘keikhlasan’ yang sesungguhnya. Ya, aku mencoba untuk tetap ikhlas menjalani semua ini. Tetap ikhlas dalam penantian yang tak pasti ini. Tetap ikhlas mendengarkan semua keluh kesahnya tentang cinta lain yang telah menjadi dermaga tempat hatinya berlabuh. Jika kalian bertanya tentang perasaanku, jelas aku merasa sakit (sangat). Tapi itulah pembelajaran tentang arti ‘keikhlasan’ yang sesungguhnya. Aku akan senantiasa mencoba untuk ikhlas. Aku mencoba untuk senantiasa memberikan senyum padanya, hal yang seperti biasa aku lakukan untuknya.
Darinya, aku belajar tentang arti ‘kesetiaan’ yang sesungguhnya. Aku tak tau apakah dia tengah menguji kesabaranku atau apapun alasannya. Bagaimanapun itu, aku mencoba untuk tetap bersabar. Sabar menunggunya untuk menyentuh relung hatiku, meski aku tak tau sampai kapan aku harus menunggunya. Walaupun begitu, aku akan mencoba untuk setia. Aku (tetap) setia! Aku harus (tetap) menunggu. Karena aku masih! Aku (masih) setia untuk tetap mencintainya. Setia untuk tetap memberikan senyumku. Setia untuk tetap berbagi canda, tawa, bahagia, air mata, nestapa, gundah gulana, dan segalanya. Setia untuk tetap berada di sisinya. Tak peduli saat dia tertawa, ataupun saat dia tengah terluka.
Seperti mentari yang tak kenal lelah untuk selalu tersenyum cerah menemani bumi melakukan tugasnya, berotasi setiap hari. Seperti rembulan yang selalu meneduhkan alam ketika petang datang menjelang. Seperti awan yang selalu memayungi bumi dari silaunya terpaan sang surya. Seperti angin yang selalu menyejukkan jiwa setiap insan. Seperti hujan yang membasahi alam dan menyelamatkannya dari kekeringan. Seperti bintang yang selalu bersinar, berpijar, menemani di kala sepi datang mengejar. Seperti pelangi yang ada untuk menghibur dan membujuk langit untuk berhenti menangis. Begitulah! Ada. Setiap hari. Setiap waktu. Setiap hembus napasnya. Setiap degup jantungnya. Setia. Setia. Tetap setia mendampinginya. Tetap setia menemani hidupnya.
Seperti itulah aku belajar tentang makna kehidupan yang sesungguhnya dari sosoknya. Oleh karena itu, tak akan pernah aku sesali pertemuanku dengannya. Tak akan pernah aku sesali takdir Tuhan yang telah menuntunku menemuinya. Karena itu semua merupakan anugerah yang Tuhan berikan untukku. Ya, itu semua anugerah! Mencintainya adalah anugerah. Mencintainya adalah bahagia. Mencintainya adalah segalanya. Mencintainya adalah untuk selamanya. Untuk selamanya. S e l a m a n y a....... ^^
Dirinya yang dulu tak pernah sekalipun menggetarkan dawai di hati ini, kini secara tiba-tiba menjelma menjadi seseorang yang kehadirannya selalu kutunggu. Menunggu untuk apa, aku pun tak mengetahuinya dengan pasti. Aku tak mengerti!
Aku tahu dengan pasti bahwa cintanya bukanlah untukku. Hatiku tidak mungkin bisa bertautan dengan hatinya yang jelas-jelas sudah bukan untukku, dan memang dari awal pun bukanlah untukku. Aneh memang. Lantas mengapa sosoknya kemudian bisa menjadi begitu berarti?? Mengapa pula aku harus selalu menunggu kehadirannya?? Meskipun terkadang aku harus bisa menerima kenyataan pahit bahwa dia tidak datang, bahkan aku harus lebih siap lagi jika aku mengetahui bahwa kehadirannya bukan untuk menyapa relung jiwaku.
Lalu kenapa?? Kenapa hati ini bisa begitu tulus mencintainya? Kenapa jiwa ini bisa bisa begitu merindukan kehadirannya? Kenapa diri ini bisa begitu terpaku pada sosoknya, dan terkungkung oleh pesonanya? Aku pun tidak tau jawabnya. Hanya Tuhan lah yang mengetahui segalanya. Hanya Tuhan yang mengetahui tentang segala apa yang ada di dalam hatiku dan hatinya.
Hanya satu yang pasti aku ketahui. Aku akan selalu menemukan ketentraman lewat setiap tatapannya yang membiusku dengan mata sendunya itu. Selain itu, aku juga akan selalu merasakan kelembutan yang bisa aku temukan lewat tutur katanya yang senantiasa ia ucapkan dengan begitu syahdu. Aku juga bisa menemukan kegembiraan di setiap gelak tawa yang selalu kita bagi bersama di setiap waktu yang kita punya. Aku bisa merasakan segalanya ketika dia berada di sisiku. Terlebih dari semua itu, aku akan selalu merasakan kenyamanan setiap menghabiskan waktu bersamanya.
Tak tahulah! Aku tak berani menyebut semua ini sebagai cinta sejati. Aku hanya terlalu takut untuk terjatuh (lagi). Tapi dengan mengenal sosoknya, sungguh aku telah belajar banyak hal. Darinya, aku belajar tentang arti ‘keikhlasan’ yang sesungguhnya. Ya, aku mencoba untuk tetap ikhlas menjalani semua ini. Tetap ikhlas dalam penantian yang tak pasti ini. Tetap ikhlas mendengarkan semua keluh kesahnya tentang cinta lain yang telah menjadi dermaga tempat hatinya berlabuh. Jika kalian bertanya tentang perasaanku, jelas aku merasa sakit (sangat). Tapi itulah pembelajaran tentang arti ‘keikhlasan’ yang sesungguhnya. Aku akan senantiasa mencoba untuk ikhlas. Aku mencoba untuk senantiasa memberikan senyum padanya, hal yang seperti biasa aku lakukan untuknya.
Darinya, aku belajar tentang arti ‘kesetiaan’ yang sesungguhnya. Aku tak tau apakah dia tengah menguji kesabaranku atau apapun alasannya. Bagaimanapun itu, aku mencoba untuk tetap bersabar. Sabar menunggunya untuk menyentuh relung hatiku, meski aku tak tau sampai kapan aku harus menunggunya. Walaupun begitu, aku akan mencoba untuk setia. Aku (tetap) setia! Aku harus (tetap) menunggu. Karena aku masih! Aku (masih) setia untuk tetap mencintainya. Setia untuk tetap memberikan senyumku. Setia untuk tetap berbagi canda, tawa, bahagia, air mata, nestapa, gundah gulana, dan segalanya. Setia untuk tetap berada di sisinya. Tak peduli saat dia tertawa, ataupun saat dia tengah terluka.
Seperti mentari yang tak kenal lelah untuk selalu tersenyum cerah menemani bumi melakukan tugasnya, berotasi setiap hari. Seperti rembulan yang selalu meneduhkan alam ketika petang datang menjelang. Seperti awan yang selalu memayungi bumi dari silaunya terpaan sang surya. Seperti angin yang selalu menyejukkan jiwa setiap insan. Seperti hujan yang membasahi alam dan menyelamatkannya dari kekeringan. Seperti bintang yang selalu bersinar, berpijar, menemani di kala sepi datang mengejar. Seperti pelangi yang ada untuk menghibur dan membujuk langit untuk berhenti menangis. Begitulah! Ada. Setiap hari. Setiap waktu. Setiap hembus napasnya. Setiap degup jantungnya. Setia. Setia. Tetap setia mendampinginya. Tetap setia menemani hidupnya.
Seperti itulah aku belajar tentang makna kehidupan yang sesungguhnya dari sosoknya. Oleh karena itu, tak akan pernah aku sesali pertemuanku dengannya. Tak akan pernah aku sesali takdir Tuhan yang telah menuntunku menemuinya. Karena itu semua merupakan anugerah yang Tuhan berikan untukku. Ya, itu semua anugerah! Mencintainya adalah anugerah. Mencintainya adalah bahagia. Mencintainya adalah segalanya. Mencintainya adalah untuk selamanya. Untuk selamanya. S e l a m a n y a....... ^^
ITU KAMU (Cibiru, 14 Juni 2011 – 00.08 a.m)
Itu kamu, yang datang dengan sejuta tawa
Itu kamu, yang hadir dengan semua canda
Itu kamu, yang ada dalam setiap mimpi
Itu kamu, yang selalu ada di dalam hati
Setiap tawa yang kau bagi adalah surga
Setiap canda yang kau beri adalah sukacita
Mimpi yang kau punya adalah bahagia
Selalu ada, selau kubingkai dalam dada
Kamu dekat, tapi terasa jauh
Membuat aku sulit untuk bernapas
Membuat aku terpaku, diam tak berdaya
Melihatmu merindu, tapi bukan untuk aku
Tapi, senyummu adalah bahagiaku
Tawamu adalah sumber semangatku
Maka biarlah aku disini, menangis sendiri
Untuk kemudian tertawa demi melihatmu bahagia
Tersenyumlah, sayang!
Biarkan sinarnya tetap menyinari hidupku
Biarkan kehangatannya tetap mendekap
Mendekapku hingga aku terlelap
Itu kamu, yang selau ada di dalam hatiku
Membuat air mataku menjadi tawa
Membuat sedihku menjadi bahagia
Membuat semuanya menjadi lebih berwarna
Itu kamu, yang hadir dengan semua canda
Itu kamu, yang ada dalam setiap mimpi
Itu kamu, yang selalu ada di dalam hati
Setiap tawa yang kau bagi adalah surga
Setiap canda yang kau beri adalah sukacita
Mimpi yang kau punya adalah bahagia
Selalu ada, selau kubingkai dalam dada
Kamu dekat, tapi terasa jauh
Membuat aku sulit untuk bernapas
Membuat aku terpaku, diam tak berdaya
Melihatmu merindu, tapi bukan untuk aku
Tapi, senyummu adalah bahagiaku
Tawamu adalah sumber semangatku
Maka biarlah aku disini, menangis sendiri
Untuk kemudian tertawa demi melihatmu bahagia
Tersenyumlah, sayang!
Biarkan sinarnya tetap menyinari hidupku
Biarkan kehangatannya tetap mendekap
Mendekapku hingga aku terlelap
Itu kamu, yang selau ada di dalam hatiku
Membuat air mataku menjadi tawa
Membuat sedihku menjadi bahagia
Membuat semuanya menjadi lebih berwarna
Langganan:
Komentar (Atom)