Tuhan memang Maha membolak-balikan hati setiap manusia. Betapa tidak?!
Dirinya yang dulu tak pernah sekalipun menggetarkan dawai di hati ini, kini secara tiba-tiba menjelma menjadi seseorang yang kehadirannya selalu kutunggu. Menunggu untuk apa, aku pun tak mengetahuinya dengan pasti. Aku tak mengerti!
Aku tahu dengan pasti bahwa cintanya bukanlah untukku. Hatiku tidak mungkin bisa bertautan dengan hatinya yang jelas-jelas sudah bukan untukku, dan memang dari awal pun bukanlah untukku. Aneh memang. Lantas mengapa sosoknya kemudian bisa menjadi begitu berarti?? Mengapa pula aku harus selalu menunggu kehadirannya?? Meskipun terkadang aku harus bisa menerima kenyataan pahit bahwa dia tidak datang, bahkan aku harus lebih siap lagi jika aku mengetahui bahwa kehadirannya bukan untuk menyapa relung jiwaku.
Lalu kenapa?? Kenapa hati ini bisa begitu tulus mencintainya? Kenapa jiwa ini bisa bisa begitu merindukan kehadirannya? Kenapa diri ini bisa begitu terpaku pada sosoknya, dan terkungkung oleh pesonanya? Aku pun tidak tau jawabnya. Hanya Tuhan lah yang mengetahui segalanya. Hanya Tuhan yang mengetahui tentang segala apa yang ada di dalam hatiku dan hatinya.
Hanya satu yang pasti aku ketahui. Aku akan selalu menemukan ketentraman lewat setiap tatapannya yang membiusku dengan mata sendunya itu. Selain itu, aku juga akan selalu merasakan kelembutan yang bisa aku temukan lewat tutur katanya yang senantiasa ia ucapkan dengan begitu syahdu. Aku juga bisa menemukan kegembiraan di setiap gelak tawa yang selalu kita bagi bersama di setiap waktu yang kita punya. Aku bisa merasakan segalanya ketika dia berada di sisiku. Terlebih dari semua itu, aku akan selalu merasakan kenyamanan setiap menghabiskan waktu bersamanya.
Tak tahulah! Aku tak berani menyebut semua ini sebagai cinta sejati. Aku hanya terlalu takut untuk terjatuh (lagi). Tapi dengan mengenal sosoknya, sungguh aku telah belajar banyak hal. Darinya, aku belajar tentang arti ‘keikhlasan’ yang sesungguhnya. Ya, aku mencoba untuk tetap ikhlas menjalani semua ini. Tetap ikhlas dalam penantian yang tak pasti ini. Tetap ikhlas mendengarkan semua keluh kesahnya tentang cinta lain yang telah menjadi dermaga tempat hatinya berlabuh. Jika kalian bertanya tentang perasaanku, jelas aku merasa sakit (sangat). Tapi itulah pembelajaran tentang arti ‘keikhlasan’ yang sesungguhnya. Aku akan senantiasa mencoba untuk ikhlas. Aku mencoba untuk senantiasa memberikan senyum padanya, hal yang seperti biasa aku lakukan untuknya.
Darinya, aku belajar tentang arti ‘kesetiaan’ yang sesungguhnya. Aku tak tau apakah dia tengah menguji kesabaranku atau apapun alasannya. Bagaimanapun itu, aku mencoba untuk tetap bersabar. Sabar menunggunya untuk menyentuh relung hatiku, meski aku tak tau sampai kapan aku harus menunggunya. Walaupun begitu, aku akan mencoba untuk setia. Aku (tetap) setia! Aku harus (tetap) menunggu. Karena aku masih! Aku (masih) setia untuk tetap mencintainya. Setia untuk tetap memberikan senyumku. Setia untuk tetap berbagi canda, tawa, bahagia, air mata, nestapa, gundah gulana, dan segalanya. Setia untuk tetap berada di sisinya. Tak peduli saat dia tertawa, ataupun saat dia tengah terluka.
Seperti mentari yang tak kenal lelah untuk selalu tersenyum cerah menemani bumi melakukan tugasnya, berotasi setiap hari. Seperti rembulan yang selalu meneduhkan alam ketika petang datang menjelang. Seperti awan yang selalu memayungi bumi dari silaunya terpaan sang surya. Seperti angin yang selalu menyejukkan jiwa setiap insan. Seperti hujan yang membasahi alam dan menyelamatkannya dari kekeringan. Seperti bintang yang selalu bersinar, berpijar, menemani di kala sepi datang mengejar. Seperti pelangi yang ada untuk menghibur dan membujuk langit untuk berhenti menangis. Begitulah! Ada. Setiap hari. Setiap waktu. Setiap hembus napasnya. Setiap degup jantungnya. Setia. Setia. Tetap setia mendampinginya. Tetap setia menemani hidupnya.
Seperti itulah aku belajar tentang makna kehidupan yang sesungguhnya dari sosoknya. Oleh karena itu, tak akan pernah aku sesali pertemuanku dengannya. Tak akan pernah aku sesali takdir Tuhan yang telah menuntunku menemuinya. Karena itu semua merupakan anugerah yang Tuhan berikan untukku. Ya, itu semua anugerah! Mencintainya adalah anugerah. Mencintainya adalah bahagia. Mencintainya adalah segalanya. Mencintainya adalah untuk selamanya. Untuk selamanya. S e l a m a n y a....... ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar